Saturday, January 13, 2018

Berkunjung ke Pantai Kerakat Sukamulia Desa Pohgading Kecamatan Pringgabaya

Sudah lama tidak isi blog. Rasa bersalah datang ketika melihat blog. Apalagi melihat pengunjung yang semakin berkurang. Tambah sedih. Tapi, lagi-lagi keinginan untuk posting di blog selalu pudar. Entah gerangan apa yang terjadi. Padahal, banyak hal yang mau saya posting. Dan lagi, ujung-ujungnya gagal. Aktivitas selama liburan sebenarnya ingin dituangkan. Ya, semacam hasil download film, drama, dan beberapa aktivitas lainnya. Tapi sekali lagi, gagal terus.

 

Merasa bersalah? Sepertinya wajar sekali. Setiap orang yang  memiliki blog, dan jarang diposting akan membawa beban tersendiri. Salah satunya, ya, itu rasa bersalah. Untuk menebus hal itu, akhirnya saya akan memposting perjalanan saya ke sebuah pantai. Perjalanan ini terjadi di tanggal 6 Januari 2018. Perjalanan ini dalam rangka pertemuan dengan kepala Kampung Media yang pernah saya posting di sini. Pertemua yang bisa dikatakan, dari rumah saya sekitar kurang lebih 2 jam. Walau perjalanan menempuhnya bikin pantat panas, tapi semuanya terbayar karena pantai tempat pertemuan ini cukup indah. Pantai mana?

Pantai ini bernama Kerakat. Pernah dengar? Saya tidak pernah dengar. Ini pertama kalinya saya ke pantai Kerakat. Jika tidak ada pertemuan, mungkin saya tidak akan tahu pantai ini. Lokasinya yang jauh dari pedesaan membuat saya juga berpikir keras untuk ke sini. Maksud saya, dipertemuan itu memang dikatakan kalau akan dilakukan di pantai ini. Namun, diembel-embelin dengan nama dusun Sukamulia membuat saya berpikir bahwa tempat ini hampir dekat dengan kota Selong. Jadi, saya bertanya-tanya; apa ada nama pantai Kerakat di Sukamulia?

 

Sebenarnya, tempat pantai Kerakat ini adalah tempat teman kuliah saya. Tapi karena saya tidak pernah ke rumahnya, jadi saya dituntun untuk ke tempatnya. Untuk ke tempat pantai ini, saya memilih gang dekat Sekolah Dasar 1 Phogading. Dari gang/jalan ini tinggal jalan lurus saja. Jika ada pertigaan yang tidak begitu membingungkan, tinggal dipilih ke sebelah kanan saja. Untung sekali pantai ini tinggal jalan lurus saja. Jadi, bagi yang belum pernah ke sini sangat membantu dengan kondisi jalannya. O ya, kondisi jalan ada beberapa yang sedikit tidak enak, tapi itu cuma sedikit. Lainnya cukup mulus untuk ukuran gang menuju desa lain.

 

Keberadaan dusun ini memang jauh dari jalan raya. Jadi, saya sempat berpikir kalau keberadaan tempat ini tidak ada. Ternyata saya salah. Justeru, ketika melewati gang SD makin banyak rumah-rumah warga. Semakin ke dalam, semakin banyak. Hingga pada akhirnya sampai juga ke pantai Kerakat ini. Saat sampai, saya disambut ramah oleh kakak teman saya. Kebetulan, ia juga sedang menyiapkan umbul-umbul, atau semacam pernak-pernik untuk mepercantik pantai ini. Sebelumnya, pantai Kerakat ini memang ramai dikunjungi oleh warga sekitar menjelang sore. Namun, ketika sudah dipermak sedemikian rupa, pantai ini menjadi lebih ramai. Banyak hal yang bisa dilihat di pantai kerakat ini. Yang paling bagus adalah ketika dari pantai ini kita bisa melihat pulau Sumbawa. Keren bukan?

Pantai Kerakat ini baru saja dipermak oleh pemuda desa setempat. Kata teman saya, ia dan pemuda-pemuda lainnya baru saja mempermak pantai ini; mulai dari membersihkan sampah, menambahkan bale/berugak, tempat duduk, dan lain-lainnya. Bahkan, ada beberapa sampah yang bisa dimanfaatkan. Di setiap bagian yang memiliki ruang kosong juga ditulis sebuah kata Bahasa Inggris beserta artinya. Jadi, secara tidak langsung, bagi yang berkunjung juga bisa mendapatkan kosa kata Bahasa Inggris.

Rencananya, pantai Kerakat ini akan dibangun sebagai tempat wisata. Perlengkapan berupa tempat buang air dan lain-lain akan disiapkan saat mendapatkan bantuan dana. Dan alhamdulillah, pertemuan dengan kepala Kampung Media membawa berita baik bagi teman saya karena ada akan bantuan dari pihak-pihak yang peduli. Secara langsung, pertemuan ini membawa berkah. Apakah saya mendapat berkah? Insya Allah ada. Tapi, belum banyak yang bisa saya ceritakan. Hehe.

Bagi yang mau ke pantai Kerakat, silahkan saja. Insya Allah gratis. Ke mana lagi coba jalan-jalan ke pantai dapat gratis selain ke Lombok. Maka dari itu, bagi yang baca postingan ini, ayo berkunjung ke Lombok. Ada banyak pantai indah di Lombok. Mulai yang terkenal hingga tersembunyi semacam pantai Kerakat ini. Iya, kan?

Baiklah. Sepertinya cukup sampai di sini cerita jalan-jalan saya. Ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi. Jadi, sekiranya tunggu kabar dari saya, ya. Salam hangat. Dan jangan lupa jaga kesehatan ya.

*Model: Asri & Lalu Iqbal Izzi
Read More

Thursday, December 28, 2017

Mengikuti Jambore Temu Kreatif Kampung Media Se-Nusa Tenggara Barat

Bahagia itu pasti. Apalagi ketika tahu bahwa menulis itu tidak sia-sia. Beberapa hari yang lalu, saya merasakan benar-benar manfaat dari menulis. Tidak berupa uang, tapi ini lebih ke arah kepuasan hati. Apa itu? Saya diundang ikut acara jambore dengan tema ‘Jambore Temu Kreatif Kampung Media Se-Nusa Tenggar Barat’. Acara tersebut berlangsung di Mataram, 9 Desember 2017.

 

Awalnya, saya tidak menyangka akan hadir diacara tersebut. Ini seperti mimpi. Tapi kembali lagi, mungkin saja ini terjadi, melihat saya aktif menulis di Kampung Media dari tahun 2014. Ini wajar, kan? Menanyakan wajar atau tidak wajar, sebenarnya bukan wewenang saya. Yang pasti, yang mengundang memiliki point tersendiri untuk mengundang para penulis di Kampung Media.

Kampung Media? Mungkin, bagi kalian yang belum tahu Kampung Media, kalian bisa cek di sini. Kampung Media adalah sebuah portal yang dikhusukan bagi warga NTB. Jadi, semua warga NTB bisa menulis di portal tersebut. Dengan adanya portal semacam ini, antusias warga NTB begitu baik. Banyak terbentuk Kampung Media dari desa-desa. Hingga, kabar dari setiap desa bisa didaptkan dari sana. Sangat bermanfaat sekali bukan?

Nah, karena hal inilah yang membuat saya ingin mencoba terus rutin menulis di sana. Kenapa demikian? Karena Kampung Media memiliki moto yaitu, ‘Sampaikan Informasi Bermanfaat Meski Satu Kalimat’. Jadi, segala sesuatu yang mungkin bisa saja jadi refrensi orang lain bisa saya tuangkan di sana. Banyak label yang mesti diisi di sana. Mulai dari puisi, cerpen, cerita insfirasi, pendidikan, kuliner, hingga lainnya. Maka dari itu, bagi kalian yang ingin tahu banyak tentang NTB, silahkan buka Kampung Media.

 
Alamat: Jln. Jenderal Sudirman No.40 Rembiga - Mataram, NTB.

Kembali ke topik semula. Dengan menulis di Kampung Media dan akhirnya diundang membuat saya bahagia. Kenapa tidak, saya akan menikmati kota Mataram yang jarang saya kunjungi. Jika diajak ke Mataram, saya lebih rela jadi penumpang ketimbang tukang ojeknya. Sebab, banyak jalan di sana. Datang sekali dua kali tentu membuat saya tidak tahu jalan. Maka dari itu, saya lebih memilih jadi penumpang. Saya bisa menikmati pemandangan kota Mataram. Selain itu, dengan menghadiri acara tersebut, saya juga bisa menikmati yang namanya Hotel Lombok Astoria. Ini merupakan hal yang pertama saya lakukan gara-gara menulis.

Hotel Lombok Astoria memang memiliki beberapa fasilitas yang mendukung. Beberapa ruang juga digunakan untuk pertemuan. Maka tidak heran saat saya hadir, ada beberapa ruang yang saya lihat sudah digunakan. Saya mulai menikmati Hotel Lombok Astoria ketika acara pembukaan sudah selesai. Sebelum acara intinya dimulai, saya menikmati dulu bagaimana enaknya beristirahat di Hotel Lombok Astoria. Suasana di kamar hotel cukup baik. Ukuran kamarnya memang kecil tapi itu sudah cukup. 2 tempat tidur, 1 kamar mandi yang lengkap, TV, dan WiFi yang gratis membuat saya benar-benar nyaman. Acara Jambore Kampung Media ini memang memilih tempat yang nyaman.


Di acara intinya, kemeriahan terjadi. Banyak hala yang baru saya sadari. Ternyata, banyak warga NTB menekuni duni tulis menulis. Di malam inti inilah para penggiat yang menulis di Kampung Media mendapatkan anugerah dari pengurus Kampung Media. Acara ini memang rutin diadakan setiap tahun. Dengan adanya hal ini membuat saya sadar bahwa menulis itu tidak akan berdampak buruk bagi siapa pun selama tulisan itu bermanfaat. Dan di sinilah tempat irinya saya. Mereka yang mendapatkan penghargaan adalah orang-orang yang hebat.

Di acara intinya juga tidak lupa acara makan-makan. Banyak makanan yang dihidangkan. Mulai dari makan malam hingga makanan lainnya. Hingga akhirnya saya sadari bahwa makan di rumah lebih enak ketimbang di hotel. Menu makanan yang dihidangkan banyak yang mewah. Namun, masalah lidah tidak bisa dibohongi. Makan di rumah walau terlihat sederhana namun nikmatnya tiada tara. Apa memang rata-rata makanan hotel seperti itu, ya? Saya hanya makan secukupnya walau ada beberapa yang terpaksa saya makan. Tidak enak menyia-nyiakan makanan. Karena hal itu, saya lebih menikmati makanan tambahan lainnya yaitu makanan roti, dan makanan manis lainnya.

Jadi, inti dari postingan ini adalah, saya benar-benar menikmati undangan ini. Saya begitu terharu menghadiri acara ini karena hal ini membuktikan bahwa efek dari menulis itu memang luar biasa. Saya berharap, tahun depan saya bisa mengikuti acara ini lagi. Semoga bisa. Baiklah, saya tutup. Salam hangat.
Read More

Friday, December 22, 2017

Goresan Hati: Perjuangan yang Kadang Terlihat Sia-sia

Ingin lebih maju. Itu dambaan semua orang. Banyak hal yang dilakukan untuk mencapainya. Pengorbanan pun kerap dilakukan. Tidak masalah jika pengorbanan itu terlihat berat. Semua demi sebuah kemajuan. Akankah sanggup? Mau tidak mau memang harus sanggup. Memang begitulah kehidupan. Siapa yang rela berkorban, maka kelak akan mendapatkan hasilnya.

image:pixabay.com

Hasil? Kadang itu tidak bisa tercapai. Seberapa pun sebuah pengorbanan jika memang bukan rizki, maka itu tidak akan bisa tercapai. Inilah yang dinamakan sebagian dari perjuangan. Pengorbanan adalah bagian dari perjuangan.

Perjuangan itu melelahkan. Sangat melelahkan. Saya pernah merasakan hal itu. Sejak memutuskan untuk mengubah ke arah hidup yang lebih baik, saya memutuskan untuk mengikuti sebuah tes. Ya, tes yang akan mengakhiri derita saya selama ini. Derita yang sudah dipikul selama ini. Gaji pertiga bulan yang bisa dihitung satu tangan, akan segera berakhir. Tapi apa semudah itu? Oh tidak. Saya terlalu percaya diri dengan kemampuan tidak seberapa saya. Saya benar-benar salah total. Masih banyak orang yang lebih dari saya. Banyak orang yang lebih beruang ketimbang saya. Mungkin... ini karena saya....

Baiklah, perjuangan ini terlihat sia-sia. Belajar. Mengumpulkan soal. Mencoret-coret. Berjuang ke tempat tes, dan lolos di babak pertama. Berikutnya ke babak kedua. Sebuah pengorbana kembali hadir sini. Hujan yang deras. Kekesalan datang. Kebencian hadir ke teman. Semua menyatu. Waktu yang seharusnya dipakai belajar harus diubah menjadi sebuah kegigilan. Terasa menusuk ke tulang. Namun itu akhirnya terlewatkan ketika pagi kembali untuk mengikuti babak kedua. Apa hasilnya?

Oh, saya baru tahu, bukan hanya saya saja yang berjuang untuk mengubah kehidupan ini. Ada ratusan, salah, ada ribuan yang mengikuti tes. Apa saya menyerah? Bukan. Bukan saatnya untuk menyerah. Walau orang-orang di atas saya, saya masih semangat untuk membuktikan itu. Walau di hati kecil saya ada jeritan, “Sepertinya akan terlihat sia-sia.”

Saat waktu bergulir, itu semua memang benar – sia-sia. Kata orang, tidak ada perjuangan yang sia-saia. Tinggal dalam diri saja yang melihat sudut pandang dari sisi lain. Hikmah? Mungkin itu maksudnya. Tapi, itu sedikit tidak berguna bagi saya. Saat itu, saya tidak ingin berada di level yang sok bijak atau lainnya. Hati saya sedikit pegal dengan hal itu. Apa penyebabnya? Mungkin ini adalah sedikit persen, namu itu benar-benar menusuk. Semua sudah ada yang ngatur. Ini hanya sebuah pormalitas.

Setega itukah orang-orang atas? Mempermainkan sebuah pengorbanan yang tidak lain merupakan bagian dari perjuangan. Setega itukah? Apakah saya adalah wayang yang bisa diarahkan ke sana kemari namun berakhir menjadi piguran semata? Oh, saya menyadari bahwa inilah dunia sekarang. Di mana, ada lembaran berangka banyak yang menang. Dan saya? Tidak, ini bukan drama. Hanya saja saat itu, itu yang saya rasakan. Apa ini berlebihan?

Andai kalian berada di posisi saya kala itu, mungkin kalian juga beranggap bahwa perjuangan itu terkadang sia-sia. Tidak ada dampak sama sekali. Tapi ya sudahlah, anggap saja itu hanyalah permainan yang ingin dicoba namun terasa melelahkan sehingga tidak ingin dimainkan lagi. Yakin tidak akan bermain lagi? Selama ada kesempatan, tidak ada salahnya saya bermain lagi. Walau pada awalnya, saya tahu bahwa permainan itu hanya membuat lelah saja.

Hidup memang kadang terlihat menyenangkan bagi orang-orang di atas, tapi sebenarnya bagi saya itu melelahkan. Jadi tidak heran jika orang-orang atas lebih gemar mempermainkan hukum. Sebab, mereka sudah terbiasa memainkan permainan yang menyenangkan. Bukan begitu?
Read More

Tuesday, December 19, 2017

Goresan Hati: Menyendiri, Ibarat Membunuh Diri

Libur, berarti nganggur. Hanya bisa di depan laptop, HP, atau di TV. Bergantian. Bikin bosan. Tidak ada aktivitas apa pun. Kadang bikin frustasi. Apa akan tetap begini?

Saya bertanya-tanya tentang diri saya; apakah akan tetap seperti ini? sedangkan waktu semakin bergulir. Usia semakin betambah. Napas semakin sedikit di dunia. Namun apa yang bisa saya lakukan? Hanya diam. Kadang, ada banyak hal yang ingin saya capai. Tapi, inilah saya. Yang ingin dicapai terlalu sulit untuk dicapai. Tiada daya. Lemah. Bodoh.
image:pixabay.com

Rasanya, berdiam diri hanyalah tindakan konyol. Saya ingin bekerja terus. Menghasilkan sesuatu. Semisal uang. Ya. Saya membutuhkan banyak uang. Saya menangis saat melihat orangtua masih mnengisi perut saya dengan bekerja keras. Pagi buta menyiapkan sesuap nasi untuk dijual. Siang membersihkan rumah. Malam, bekerja lagi. Hanya sedikit waktu yang digunakan untuk istirahat. Apa saya begitu tidak bergunanya?

Kadang, saya merasa bahwa diri saya adalah beban. Orangtua tidak bisa berleha-leha karena saya. Bukan kadang. Sering. Tapi, apa yang bisa saya lakukan? Memberi uang tidak seberapa kepada mereka sudah saya lakukan. Tapi tetap saja itu tidak berefek sama sekali. Uang memang segalanya. Hingga membuat saya tidak berdaya.

Saya ingin lari, keluar untuk menemukan hal yang baru. Tentunya berpenghasilan yang lebih banyak. Namun, saya takut, takut untuk melangkah. Hal yang baru dicoba terasa menyakitkan. Zona aman yang sekarang terasa menyiksa namun terlalu sulit untuk ditinggalkan. Apakah saya bodoh? Anggap saja begitu.

Ya, saya memang bodoh. Bodoh dari segalanya. Bodoh karena masih saja bergelut dengan dosa. Kenapa tidak bisa mengubah diri? Ya, saya memang cocok menjadi orang bodoh. Membahagiakan orangtua masih saja belum saya capai. Saya tidak bisa sesekhawatir mereka terhadap saya. Saya masih menghendus ingus yang kadang sebenarnya saya menangis tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Ada beberapa sepeda motor yang menagih sebuah riba yang saya makan kepada orangtua. Ingin rasanya mengusir mereka. Tapi, bukankah itu percuma? Saya sudah menelan riba mereka. Dan orangtua, tergupuh-gupuh untuk menyapa mereka lalu memberikan beberapa lembar untuk hari ini. lembaran itu hasil dari keringat di pag hari. Menangis. Hanya di dalam hati. Terpukul. Sudah membekas dan rasanya sakit.

Inilah derita. Masih terkurung dalam menyendiri yang kadang terasa membunuh diri. Tidak bisa berbuat apa-apa. Luka itu terasa menyakitkan. Akankah saya seperti ini terus? Tuhan, bukankah saya terlalu sering berdoa. Atau, terlalu sulitkah untuk diterima doa saya? Kadang, merenungkan ini membuat saya menjadi manusia yang tidak pandai bersyukur. Oh, bukan kadang. Tapi mungkin saja itu yang terjadi sehingga doa itu tidak terkabulkan.

Tuhan, ketahuilah. Di hati, saya ingin memberikan mereka gunung yang tinggi untuk dijual supaya mereka dengan santai menyebut nama-Mu. Saya ingin menjual lautan supaya mereka dengan santai berdiam diri lalu tetap memuja-muja-Mu. Tapi, apalah daya saya, itu hanyalah kiasan yang tidak ada gunanya sama sekali. Terlalu miris bukan? Tapi Tuhan, bukankah selama ini saya membantu mereka; memijat mereka, membawa mereka ke puskesmas, membersihkan rumah, dan ada banyak hal-hal kecil lainya. Walau, ya, saya akui kadang saya merasa sedikit geram dan risih. Tapi, tidakkah Engkau menilai itu.

Sadar. Ya, saya benar-benar sadar akan kekurangan saya. Kerap mengutuk diri adalah kebiasaan terburuk saya. Buruk sekali. Namun, hanya inilah yang saya lakukan untuk menyesali bagaimana sikap saya selama ini. Benarkah saya manusia terburuk? Tuhan, saya takut siksaan. Namun....

Huh, menyendiri kadang menyiksa diri. Benar-benar seperti tercekik. Walau tidak benar-benar tercekik tapi begitu terasa. Tuhan... ubahlah hamba-Mu ini. Murah meriahkan rizki hamba-Mu ini. Ini semata untuk mereka. Amin!
Read More

Saturday, December 16, 2017

Maaf, Aku Tidak Suka

“Kamu benar-benar tidak suka, Gina?”
Aku mengangguk.
“Hai, apa aku tidak salah dengar? Ingat, Go, cowok satu kelas kita, suka dengannya.”

Edwin tidak percaya dengan anggukanku. Dari ucapannya, dia seolah mengingatkan aku tentang Gina. Ya, aku tahu. Gina gadis cantik. Rambutnya terurai indah. Bola matanya bulat seperti kelereng. Senyumnya manis. Ramah dan pintar. Wajar jika banyak yang suka dia. Tapi aku? Aku tidak suka.
“Sudahlah, aku ke kantin dulu.”

Edwin pergi. Sepertinya dia tidak ingin menemaniku di kelas untuk mengerjakan PR Fisika yang belum kubuat tadi malam. Aku bukan pemalas. Hanya saja, tadi malam aku tidak sempat karena kelelahan membantu Mama membuat kue.

#

“Hai, Go, apa benar kamu tidak suka Gina?”
Kali ini, Narendra, teman sekelasku, juga menghampiriku. Dia duduk di sampingku. Kebetluan Edwin baru saja keluar main.
Aku mengangguk.

“Kamu aneh, Go. Kok bisa begitu?”
“Wajar dong, Ndra. Kan, hidup itu beda selera.”
“Jadi, Gina itu bukan selera kamu?”
“Begitulah.”

Narendra menepak jidatnya. Sepertinya dia berpikir kalau aku cowok yang tidak normal.
“Kamu heran, kan, Ndra? Jadi, omonganku itu tidak bohong.” Edwin datang dengan suara lantang.
Narendra mengangguk-angguk. Tidak percaya.

#

Pagi, Gina sudah duduk di samping tempat dudukku. Aku heran. Sepertinya ada sesuatu. Tapi, aku pura-pura tidak peduli. Aku duduk di bangkuku, lalu memasukkan tas ranselku di laci.
“Apa itu benar, Go?” Gina langsung bertanya ketika dudukku sudah tenang.
“Tentang apa?” Aku tidak tahu arah pembicaraan Gina.

Mata Gina beloh, seolah menginginkan jawaban segera atas pertanyannya. Walaupun dengan tatapan beloh, Gina masih terlihat cantik. Tapi, aku tidak tergugah sedikit pun dengan cantiknya itu. Padahal, teman-temanku mengatakan kalau Gina itu adalah bidadari yang turun dari kayangan.
Aku mengangkat bahuku.

“Kamu benar tidak suka aku?”
Aku mengangguk, tanpa berpikir dua kali.
Gina menarik napas. “Begitu?” suaranya lirih seperti kecewa.
Aku mengangguk sekali agi.
Gina berdiri dan langsung menuju bangkunya.

#

Mataku menyipit. Keningku mengerut. Hal itu karena Retina berdiri di depanku dengan terengah-engah. Sepertinya dia habis lari maraton.
“Kamu rupanya di sini, Go,” katanya. Dia mulai mencoba mengatur napasnya. Dia menemukan aku yang sedang duduk santai di bawah pohon mangga samping musola sekolah.

Why?
“Kamu harus bertanggung jawab?”
Keningku mengerut ganda. Bertanggung jawab? Aku merasa tidak pernah berbuat salah. Aku masih memiliki iman, walaupun tidak tebal. Aku masih ingat petuah orang tuaku. Lalu... apa ini?
“Kamu harus ikut denganku?!”

Retina menarik tanganku, kemudian melangkah entah ke mana. Setiap kutanyakan mau ke mana, dia hanya diam. Akhirnya, aku hanya menurut – mengikuti.
“Lihat!”
Retina melepas tanganku. Kepalanya terangguk ke depan. Ada Gina yang sedang duduk. Menangis tersedu-sedu.

“Gina kenapa, Re?” tanyaku, bingung.
“Ini gara-gara kamu. Kamu harus bertanggung jawab!” cetus Retina.
“Tanggung jawab? Aku tidak pernah ....”
“Go!”

Aku tidak melanjutkan kata-kataku ketika Gina memanggil namaku dengan lantang. Dia menatapku dengan air mata yang merembet ke pipinya – nanar.
“Kamu sudah menyakiti aku, Go. Aku benci kamu!”
Gina mendorong pundak kiriku, kemudian berlalu. Aku yang diperlakukan seperti itu bingung. Apa yang dimaksud Gina?
“Go!”
Retina menarik lenganku untuk menatapnya. Aku mengangkat kedua alisku, lalu mengangguk, seolah meminta penjelasan.

“Apa kamu tidak tahu kalau selama ini Gina suka kamu, Go? Saat Gina mendengar dari Edwin dan Narendra tentang kamu yang tidak suka dia. Dia mencoba mempertanyakan itu padamu, dan kamu... dengan tidak merasa berdosa menganggukkan kepala. Go, kamu parah!”
Retina pergi.

Mendengar penjelasan Retina aku terpatung. Tidak mengerti dengan hal itu. Jadi... Gina.... Aku menggelengkan kepala. Bukan. Bukan aku tidak paham tentang perasaan seseorang. Tapi, tepatnya, selama ini, Gina tidak pernah memperlihatkan rasa sukanya padaku. Seperti ciri-ciri orang suka, misalnya.
Lalu, apakah aku salah?

#

Retina mondar mandir. Dari mejanya sampai ke mejaku. Letak meja Retina di belakang. Dari mejanya dengan mejaku ditengahi dengan dua meja.
Aku yang semula tidak peduli, akhirnya peduli. Sebenarnya, aku mau menegur tindakan Retina sejak awal, tapi, aku menunggu suasana kelas sepi. Dan saat kelas sepi, aku mulai.

“Kamu ada masalah?” langsungku.
Retina berheti. Tepat di depanku.
“Aku menuggu kamu bertanya seperti itu,” serunya, lalu lebih mendekat. “Aku mau mengajakmu ke tempat kemarin,” tambahnya.
“Ke mana?”
“Yang kemarin.”

“Tempat keberadaan Gina?” tebakku.
Retina mengangguk.
“Untuk?”
“Pokoknya kamu harus ikut.”
Aku mengangguk.

Aku mengikuti langkah Retina untuk menemui Gina. Aku setuju dengan ajakan Retina karena aku ingin menyelesaikan semua tentang perasaan Gina. Aku tidak ingin di cap sebagai cowok penjahat cinta.
“Aku dan Go sudah sampai, Gin,” seru Retina ketika sudah ada di depan Gina.

Gina yang duduk di bangku yang sedikit rusak mengangkat kepalanya. “Go, selama ini aku suka kamu. Jadi, kuharap kamu suka aku,” langsungnya, tanpa berbasa-basi.
Mendengar itu, aku terdiam. Hanya mataku yang bereaksi – beloh.
“Kamu mau kan jadi pacarku?” tambah Gina.

Aku masih diam.
Sebenarnya, aku tidak percaya dengan tindakan Gina ini. Selama ini, Gina yang kukenal tidak seperti ini. Tapi... apa karena rasa cintanya membuat dia begini? Aku menggeleng. Berusaha untuk tidak berpikir lain-lain.
“Go! Vigo!” Retina menepak pundakku.
“Ah, ya?”

Aku seolah seperti baru tersadar dari mimpi buruk.
“Go, asal kamu tahu, selama ini aku selalu menolak cowok yang menyatakan cinta padaku. Kamu tahu kenapa?” ucap Gina, “itu karena aku menunggu kamu,” lanjutnya ketika melihat aku hanya menyimak.

Aku semakin tidak percaya dengan ucapan Gina.
“Go... sungguh, aku cinta kamu. Kamu harus percaya itu.”
Aku menelan ludah. “Sejak kapan?” Aku membuka mulut dengan pertanyaan.
“Kalau kamu tanya tentang ‘kapan’, sepertinya aku tidak tahu. Yang pasti, aku suka kamu dari dulu.”
Aku mengangguk. Percaya dengan ucapan Gina. Tapi, aku memang tidak suka Gina. Walau dengan pahit, aku harus mengatakan yang sebenarnya.

 “Gin...,” aku memperhalus suaraku. Aku mencoba menenangkan perasaan Gina. “Aku berterima kasih karena kamu sudah suka aku. Tapi, maaf, aku tidak bisa.”
Mata Gina beloh, sesaat, seolah shock dengan ucapanku. Dia berpaling. Tidak ingin melihat wajahku.
“Apa gara-gara ada cewek lain?” Gina menarik napasnya. Menghembuskan. Berusaha menegarkan diri.

Aku menggeleng. “Tidak ada, Gin.”
“Lalu?”
“Gin, kamu harus tahu. Aku, untuk saat ini tidak ingin mengenal cinta. Aku sudah berjanji pada almarhum Ayahku, aku tidak ingin mengenal cinta sebelum aku sukses. Jadi, kuharap kamu mengerti.”

Gina mengangguk-angguk. Tangannya menyeka air matanya.
Saat aku merasa Gina sudah mengerti, aku bergegas meninggalkannya. Semoga, Gina mengerti dengan semua ini.  Apa aku terlihat jahat terhadap Gina?
Read More

Friday, December 15, 2017

Tentang Drama I am Not a Robot

Drama baru. Setelah menamatkan menonton Because This is My First Life, saya beralih ke I am Not a Robot. Pada awalnya, saya tidak tertarik dengan drama ini. Sebab, situs yang menyajikan drama ini masih 4 episode. Saya beranggapan, jika masih dipertengahan seperti itu, nanti saya pasti penasaran. Karena tidak mau penasaran, akhirnya memutuskan untuk tidak mendownloadnya. Namun, setelah beberapa hari lalu, ketika saya berada di daerah yang memiliki jaringan 4G, akhirnya mencoba download drama dari HP. Dan ternyata, saya memilih drama I am Not a Robot ini untuk didownload. Jadi, drama ini menjadi bahan percobaan saya untuk mendownload drama dari HP. Dan apa hasilnya? Tentu berhasil.

 

Karena berhasil, saat di rumah, saya mulai menonton drama ini. Secara perlahan saya mencoba untuk terus menonton drama ini. Saat di awal episode, memang drama I am Not a Robot ini sedikit tidak bikin penasaran karena shootnya gelap-gelap begitu. Namun akhirnya, setelah menamatkan episode 1 yang cuma sekitar 30 menit, saya kok tiba-tiba penasaran dengan drama ini. Kenapa saya penasaran?

Sedikit saya berikan sinopsis untuk drama ini.

Seorang laki-laki kaya bernama Kim Min Kyu mendatangi tempat penyaringan wajib militer. Di sana, beberapa petugas/dokter menyatakan dia sudah 3 kali mengabaikan panggilan untuk wajib militer. Melihat fisik Kim Min Kyu, semua petugas sedikit sinis terhadapnya. Namun, ketika Kim Min Kyu mulai membuka bajunya dan memegang tangan salah satu petugas, Kim Min Kyu langsung berubah menjadi monster. Monster? Bukan monster. Kim Min Kyu langsung mengalami perubahan pada kulitnya seperti orang alergi sehingga tampilannya terlihat mengeriput. Sang petugas pun ketakutan dan secara sadar meyadari kenapa Kim Min Kyu tidak bisa mengikuti wajib militer. Namun, yang ditakutkan oleh petugas itu adalah, kira-kira penyakit dari Kim Min Kyu bisa menular? Ternyata penyakitnya tidak menular. Kim Min Kyu hanya tinggal menyuntikan obat penawar penyakitnya maka dia akan sembuh kembali.

Kim Min Kyu walau termasuk laki-laki kaya namun sebenarnya dia hanyalah laki-laki kesepian. Di rumah, dia hanya sendiri dan hidup dengan beragam robot di sana. Hanya robotlah yang menemani hidupnya. Sebab, dia tidak bisa bersentuhan dengan orang lain. Dan anehnya, dia sempat meranyakan ulang tahun salah satu robotnya. Benar-benar aneh, kan?

Apa kelanjutan cerita drama I am Not a Robot? Penasaran? Ayo, di download. Kalian mau dowload? Ayo download di sini. Klik!

O ya, tulisan ini sebenarnya tulisan kelanjutan yang sempat tertunda. Jadi, sekarang drama ini sudah menyuguhkan episode 6, dan saya pun sudah selesai menontonnya. Saya benar-benar penasaran dengan drama I am Not a Robot ini. Walau pada dasarnya, drama ini sudah bisa ditebak. Bahkan, tema yang dibawakan juga sudah biasa. Namun, karena ada unsur-unsur robot atau tehnologi canggih yang digunakan, saya ingin terus mengikuti drama ini. Karena daram ini masih tayang, jadi saya harus sabar untuk menantikan kelanjutannya.

Bagaimana, apa kalian tertarik dengan drama I am Not a Robot ini? Jika begitu, ayo didownload. Selagi drama ini membawa tema tehnologi kayaknya patut untuk ditonton. Siapa tahu dari drama ini kalian bisa dapat ide untuk menciptakan robot. Bukan begitu?

Baiklah, saya tutup postingan kali ini. Semoga kalian berkenan membaca postingan ini. Akhirnya, hanya ini yang bisa saya sampaikan. Sampai bertemu di postingan berikutnya. Salam hangat!
Read More

Thursday, December 7, 2017

Matikan Rokokmu Sekarang, atau Generasimu yang Akan Mati!

Kemarin (6/12), ikut sosialisasi di puskesmas Belanting Kec. Sambelia. Ikut karena memang sekolah-sekolah di sekitar puskesmas diundang. Seharusnya kepala sekolah yang datang. Berhubung kepala sekolah sakit, akhirnya saya yang hadir. Bukan karena saya dipilih, murni karena hari itu guru-guru lain pada pergi ngawas. Kan, mulai tanggal kemarin anak-anak SMP sudah mulai semesteran.

Untuk kesempatan ini, saya tidak banyak cerita. Sebab, rencananya nanti saya posting. Tentu, ada foto yang berhubung dengan acara sosialisasi ini. Jadi, untuk kesempatan ini, saya hanya menulis beberapa isi dari selembaran yang saya terima. Tidak apa-apa, kan, saya tulis ulang? *Saya suka rela scan selembarannya.

 
Matikan rokokmu sekarang!!!
Atau generasimu yag akan mati!

Materi yang disampaikan untuk sosialisasi ini adalah tentang bahaya merokok. Jadi, di sini, seperti semulanya saya hanya mencantumkan isi dari selembaran yang saya terima.

Mengapa rokok bahaya?
  • Rokok bersifat adiktif (menimbulkan ketergantungan).
  • Di dalam rokok terdapat 4000 bahan kimia berbahaya.
  • 69 bahan kimia adalah zat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker) jika asapnya dihirup langsung oleh perokok aktif maupun pasif.

Akibat rokok
Penyakit jantung: penyebabnya adalah asap rokok yang dihirup akan mengganggu pembuluh darah. Penyakit paru, penyakit kanker, diantaranya: kanker lidah, kanker usus besar, kanker paru atau kanker pankreas. Gangguan pernapasan, impotensi, gangguan kehamilan dan janin.

Semua racun jadi satu
Hidrogen sianida, asam asetik, aseton, asetanisol, kadmium, naptalin, metanol, polonium-210, cinnamalde hyde, urea, formalin, sodium hidroksida, geranol, toluene, hidrasin.

Saya ingin berhenti merokok!
  • Niat yang sungguh-sungguh untuk berhenti merokok.
  • Belajar membenci rokok.
  • Sering-sering pergi ke tempat yang ruangannya ber-AC.
  • Pindahkan semua barang-barang yang berhubungan dengan rokok.
  • Jika ingin merokok, tundalah beberapa menit lagi.
  • Beri tahu teman dan orang terdekat kalau kita ingin berhenti merokok.
  • Kurangi merokok sedikit demi sedikit.
  • Hilangkan kebiasaan termenung atau menunggu.
  • Sering-seringlah pergi ke rumah sakit, agar tahu pentingnya kesehatan.
  • Cari pengganti rokok, misalnya permen.
  • Coba dan coba lagi jika masih gagal.  

 

Demikian isi selembaran yang bisa saya tulis. Banyak hal yang ingin saya bahas sebenarnya. Namun, berhubung mood lagi kurang baik, jadi cukup ini saja dulu. Ikut sosialisas sebenarnya kerap dilakukan. Namun, tidak pernah benar-benar saya tekuni untuk diposting di blog. Banyak hal yang saya perhitungkan. Salah satunya yaitu, belum terlalu mahir dalam menyusun kalimatnya. Sebab, saya lebih suka cuap-cuap tidak jelas. Kalau dalam acara resmi, kan, harus memikirkan benar-benar kalimat mana yang cocok dibaca.

Baiklah, saya harap, bagi kalian yang membaca ini saya harap bukan perokok. Sebab, ada banyak hal yang buruk tentang rokok. Jadi... saya tidak berani banyak bicara. Sebab, orang perokok sebenarnya juga sudah tahu. Karena kecanduanlah yang menyebabkan belum mengakhiri semuanya. Saya tutup. Salam hangat.
Read More